JAKARTA – Jum’at 28 Agustus 2026.

Ketukan rebana biang membuka suasana di Balai Kota DKI Jakarta. Di antara para sesepuh yang mengenakan peci dan sarung, anak-anak muda tampil membawakan Tari Sirih Kuning. Gerak mereka kemudian disusul peragaan Silat Beksi, menghadirkan wajah Betawi yang tidak hanya disimpan dalam ingatan orang-orang tua, tetapi juga diwariskan kepada generasi berikutnya.
Hari itu, Lembaga Adat dan Kebudayaan Betawi (LAKB) mengukuhkan Dr. H. Fauzi Bowo sebagai Ketua Dewan Adat LAKB periode 2024–2029. Pengukuhan tersebut berlangsung melalui seremoni adat, pertunjukan seni tradisional, doa bersama, serta pemotongan tumpeng. Hadir pula Pj. Gubernur DKI Jakarta Heru Budi Hartono, jajaran pengurus LAKB, budayawan, dan para sesepuh Betawi.
Pengukuhan Fauzi Bowo—mantan Gubernur DKI Jakarta—memiliki arti tersendiri karena berlangsung ketika Jakarta berada di tengah perubahan besar setelah tidak lagi menjadi ibu kota negara. Bagi LAKB, momentum tersebut bukan sekadar pergantian kepengurusan, melainkan kesempatan memperkuat posisi kebudayaan Betawi ketika wajah kota terus berubah.
Kekhawatiran tentang semakin tergerusnya seni, bahasa, tutur, dan nilai-nilai Betawi menjadi salah satu latar penting. Modernisasi dan perubahan Jakarta membuat pertanyaan tentang keberadaan masyarakat Betawi di tanah kelahirannya sendiri semakin relevan. Karena itu, penguatan lembaga adat diarahkan untuk merawat identitas sekaligus memperjuangkan perlindungan hak-hak adat masyarakat Betawi.
Di tengah prosesi itu, kehadiran anak-anak muda menjadi pemandangan yang tak kalah penting. Mereka membawa tari dan silat ke hadapan para sesepuh, seolah memperlihatkan bahwa keberlanjutan kebudayaan tidak hanya bergantung pada mereka yang mewarisinya dari masa lalu. Ada tangan-tangan baru yang sedang belajar meneruskan gerak, irama, dan nilai yang sama.
Doa bersama dan potongan tumpeng kemudian menutup rangkaian acara. Suasananya kembali hangat, tetapi pesan yang tersisa jauh lebih panjang dari sebuah seremoni: ketika Jakarta memasuki babak baru, kebudayaan Betawi tetap membutuhkan ruang untuk hidup—bukan hanya sebagai simbol kota, melainkan sebagai identitas masyarakat yang terus tumbuh bersama perubahan zaman.
